Kepada Illuminatus
May 9th, 2008 by mariaferraripertempuran energi ini
telah menggriring kita
… saling memangsa
entah kau, entah aku
semesta akan berpihak
meski nantinya cuma jadi hantu …
30 April 2008
pertempuran energi ini
telah menggriring kita
… saling memangsa
entah kau, entah aku
semesta akan berpihak
meski nantinya cuma jadi hantu …
30 April 2008
jangan jadikan aku persinggahan lagi
seperti orang-orang lain yang singgah di sini
…sebentar, melepas lelah, lalu pergi…
tolong! jangan jadikan aku persinggahan lagi
seperti sepi pucatnya bangku taman ini
…sebentar, disinggahi, ditiduri, lalu pergi…
.
.
.
rumah,…
itu lebih dari cukup!!
(kepada kalian, laki-laki yang meracuniku dengan gelombang-gelombang elektronikanya)
…for sickman
ahhh, andai saja aku dan dia berjumpa tidak dalam situasi seperti ini
ahhh, andai saja aku mengenalmu lebih dulu, bukan dia
ahhh, andai saja sepotong sajak itu kau kirim untukku
…dan hanya untukku, bukan dia
ahhh, andai saja …. andai saja!
..
sayangnya, aku pengecut, sayang…
sayangnya, aku pecundang, sayang…
..
kau? kau cuma tersenyum, tersenyum, dan tersenyum
kau ingin aku juga tersenyum…?
aku akan tersenyum untukmu,
selalu!
jika itu yang kau mau
karena aku tau, kau mau aku tersenyum…
..
sepotong sajak untuk seorang sahabat
…………………..dan senyum dariku
sebagian diri di dalam sini, mengepal tinju ke udara
lalu berkata "Bangsatttt kauuu!!!!"
penat dan sesak di dalam sini
, akan kubuang jauh-jauh
supaya kau tau, aku bisa tersenyum…
(jakarta, 5:55 PM)
setelah merapikan sajakmu
setelah menyusunnya satu-satu
setelah beberapa putaran lagu sendu
setelah bercakap-cakap dengan para hantu
setelah sebungkus rokok membakar paru-paru
setelah segelas bir mendinginkan amuk di kepalaku
berkatalah suara-suara di kepala :
“kenangan kalian mana
lagi yang hendak kau jual?”
lalu aku menertawai diri sendiri
malang betul cinta jadi inspirasi
cinta tak ubahnya seperti sampah
dipakai, dibuang, dipungut, dijual
berkatalah suara-suara di kepala :
“kubur saja semua
sajak kita, sebelum cinta menjadi sampah!”
lalu aku pergi tidur
sungguh penat malam ini
kuhitung kutu di kasur
kuundang ke dalam nadi
tak ada rahasia lagi,
“cinta kalian tak
pernah mati”
(2:36 AM, at home)
matamu merayau
ke tepian danau
mencari masa lalu
yang singgah di antara senja
di atas rumput kau bersila
memaknai kepulan asap
seperti para indian
mengirim berita ke kampung seberang
aku ingat betul
dua mata sayu tergantung
lelah mencari entah
ke danau ia melarung, ke senja ia merenung
hati kusimpan disini
di sela-sela angin
di sela-sela rumput
di rentang waktu, merambati senjaku
ah, kenangan itu
seketika melabuhi ingatanku
ketika kau, ketika aku
…ketika senja di tepi danau
(18 juli 2007, lalu aku berjalan di belakangmu)
terberkatilah rasa kantuk itu
sungguh sebuah penantian
bagi jiwa-jiwa yang tak pernah istirahat
kantuk adalah pembunuh sepi
karena sepi tak pernah mati
kantuk adalah sahabat keluh
karena keluh, peluh, juga bosan,
….adalah buah hati luka
terberkatilah rasa kantuk itu
karena malam takkan pernah bosan
meremas segala sepi segala luka
sampai tak ada lagi keluh, tak ada lagi peluh
(20 juni 2007, thanks to thomas silvano and sleeping pills)
ketika kukemasi impian kita
kurapikan lembar-lembar kenanganmu
sembari mencari adakah aku di lembar itu
seketika itu juga aku sadar,
…kenangan adalah sajak paling ngilu
ketika kukemasi impian kita
seketika itu juga aku sadar,
aku cemburu pada kenanganmu
karena mereka jadi sajak paling ngilu
ah, perempuan…
betapa berharganya kau ketika menjadi kenangan
(7-7-2007, di antara buku dan lembar-lembar sajak itu)

pisau bergagang kayu itu
tak setajam kenangan
yang kau kais hari demi hari
pisau bergagang kayu itu
tak setajam ingatanmu
ketika masa lalu kau gemakan lagi
pisau bergagang kayu itu
tak setajam nama
yang kau toreh di alam bawah sadar
hanya saja,
nyeri betul di dalam sini
ketika aku juga yang mengemasi lukamu
perih betul di dalam sini
ketika aku harus menjilati lukaku sendiri
(awal juli 2007, semoga lekas sembuh)
rasanya tetap sama
kini, dulu, esok, tak berubah
rasanya tetap sama
seperti berjalan tanpa alas kaki di atas pecahan kaca
serpihannya menempel
beling yang kecil menusuk
pecahan yang besar merobek permukaan kulit,
lebih dalam lagi masuk ke pori-pori
mengoyak nadi dan mengirim sinyal ke otak
"…saakiiiiiiit"
setiap darah yang mengucur
terselip kenangan dan hantu dari masa lalu
semakin jelas kenangan dipanggil
semakin deras darah mengalir
hingga akhirnya tak ada lagi darah
yang tinggal hanya rasa sakit
dari luka-luka yang mengendap
dari kenangan-kenangan yang membusuk
dari mimpi-mimpi yang tak terjamah
luka baru, luka lama
tak ada bedanya
rasanya tetap sama
seperti berjalan tanpa alas kaki di atas pecahan kaca
(jakarta, 11 juni 2007, 24 hour party people)